Dalam penelitian tersebut, para responden diminta mengikuti tes olahraga di atas treadmill pada waktu-waktu tertentu untuk mengukur kesehatan mereka sambil ditanyakan status hubungan mereka sepanjang studi.
"Ada peningkatan level kebugaran pria yang signifikan saat ia selesai menjalani proses perceraian. Sebaliknya, pada perempuan yang bercerai, level kebugarannya justru menurun," begitu laporan yang ditulis oleh para peneliti di The Karolinska Institute di Stockholm.
Diperkirakan, hal ini terjadi karena ada tekanan sosial bagi para pria yang tidak berada dalam lembaga pernikahan untuk menjaga kebugarannya supaya terus tampak menarik guna mendapatkan pasangan. Alhasil, saat mereka tanpa pasangan, mereka berusaha sebisa mungkin menjaga kebugarannya, bisa dengan banyak berolahraga di gym, mengikuti aktivitas outdoor, dan sebagainya. Sementara itu, para pria yang berada dalam lembaga pernikahan tak harus bersusah payah mempertahankan kebugarannya, setidaknya cuma perlu menjaga sekadarnya.
Para peneliti memperkirakan bahwa perbedaan di antara kedua gender ini bisa jadi terjadi karena tingkat kemenarikan perempuan tak dinilai lewat level kebugaran atau kekuatannya, tetapi lebih ke hal-hal lain, misalnya, rasio pinggang yang kecil.
Studi-studi yang lebih terkenal memang mengutarakan bahwa perpisahan atau hubungan yang gagal bisa berpengaruh buruk terhadap kesehatan seseorang. Sementara itu, studi yang dilakukan di Amerika Serikat tahun lalu menemukan bahwa individu yang bercerai sebanyak 20 persennya mengalami sakit kronis ketimbang yang belum pernah menikah. Hal ini bisa ditangkal oleh para pria yang bercerai dengan menjaga kebugarannya lewat banyak berolahraga itu.


apapun alasanya tidak ada yang bisa membenarkan perceraian apalagi ada kebaikan didalam perceraian.
BalasHapussehat tidak sehat itu tergantung pola hidup sesorang itu sendiri. lieur aja yang bikin riset ini...
hahahaha........
BalasHapus